Skip to main content

Pandemi dan "Tinta Merah"

Oleh  Ignasius Jaques Juru

Peneliti di Polgov Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Dunia saat ini, mulai dari sudut ruang yang paling terpencil sampai di pusat-pusat kemajuan, tidak luput dari kewaspadaan dan juga huru-hara yang sama ketika berhadapan dengan COVID-19. "We are on the same boat", kata Zizek.

Walaupun di dalam kapal yang sama, belum tentu kita punya tujuan yang sama; atau sekalipun di dalam kapal yang sama, kita berbeda sikap menghadapi badai yang besar ini: ada yang ketakutan dan ada juga yang tenang menghadapinya. Bahkan, tidak jarang, antara kapten dan penumpangnya tidak saling percaya, atau bisa jadi di kapal yang sama ini,  ada penumpang gelap yang menyusup.

Sumber: www.guernicamag.com

Selain di dalam kapal yang sama, kita semua juga lelah. Kelelahan kita mungkin disebabkan bukan hanya karena energi yang keluar untuk mengatasi virus ini tetapi juga karena virus ini telah menjadi pusaran yang menarik bagi semua pembicaraan kita soal politik, medis, sosial dan ekonomi ke dalam narasi yang bersifat patogenik. 

Sama seperti bentuknya yang kecil, virus ini merasuk masuk ke dalam setiap detail paling kecil kehidupan manusia. Intinya, virus ini membuat manusia yang katanya bertuhan dan kadang membanggakan segala inteligensinya repot dan menjadi mudah cemas karena kondisi kesehatan dan ekonominya dan juga mudah marah karena kebingungan menghadapi virus ini. Makhluk kecil ini telah membuat sebagian besar populasi homo sapiens mengalami neurosis akut.

Dalam segala ketidakpastian, kita perlu memahami pandemi ini dengan mencari tinta merah untuk mengulasnya dalam narasi lain. 

Mengapa tinta merah

Ada sebuah kisah yang bisa menjelaskan hal ini. 

“Ada seorang yang akan pindah dari Jerman Timur ke Siberia. Dia mulai berpikir bagaimana caranya agar ia tetap bisa menulis surat dengan temannya karena pasti surat-suratnya akan melewati proses penyensoran yang ketat. Akhirnya dia bersepakat dengan temanya untuk membuat kode: setiap surat yang ditulis dengan tinta biru, itu berarti isi suratnya benar dan  semua yang tertulis sesuai dengan fakta. Sedangkan jika ditulis dengan tinta merah, maka yang tertulis di dalamnya semua bohong, tidak sesuai dengan kondisi sesungguhnya. 

Sebulan berlalu, dan akhinrya sepucuk surat pun datang dari Siberia. Temannya yang berada di Jerman Timur sangat bahagia, apalagi dia menerima surat dengan tulisan bertinta biru. Isi surat itu seperti ini: segala sesuatu di sini luar biasa, tokoh-tokohnya berisi makanan yang berkualitas baik, bioskopnya pun menyajikan film-film barat tanpa ada penyensoran, apartemennya luas dan mewah. Tetapi satu-satunya yang tidak bisa engkau dapatkan di sini adalah tinta merah"!

Menulis dengan tinta merah adalah metafora tentang kondisi kita saat ini,  kita semakin sulit menemukan tinta merah untuk menulis fakta yang berbeda. 

Narasi dominan tentang pandemi saat ini juga beroperasi dalam nalar serupa: WHO datang dengan regim medis yang mengontrol perilaku negara sekaligus seluruh populasi di dalamnya dengan protokol-protokol kesehatan; IMF dan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) mempertegas narasi krisis ini dengan menampilkan prediksi-prediksi statistikal tentang  ancaman krisis global yang tidak terhindarkan. 

Bahkan, sebelum krisis ini terjadi, pada bulan Oktober tahun 2019, sekelompok orang yang terdiri dari rerpesentasi Big Pharma, Big Finance dan Big Tech, berkumpul di John Hopkins University, membicarakan skenario menghadapi Pandemi. Apa yang mereka bicarakan seakan menjadi self-fulfilling prophecy, ketika yang diramalkan benar-benar terjadi beberapa bulan kemudian di Wuhan. Semua peristiwa tersebut, dengan sangat meyakinkan ditulis dalam tinta biru, mempertegas bahwa inilah fakta yang sesungguhnya dan satu-satunya rujukan yang sahih tentang situasi dunia saat ini.

Dalam ketiadaan narasi alternatif,  kita perlu mencari tinta merah yang sangat jarang terjual walaupun dengan konsekuensi dianggap menganut paham konspirasi. Tetapi seperti yang ditulis Frans De Djalong, bagi regim dominan, konspirasi adalah bualan politik, bahwa pandemi adalah kejadian yang perlu dipahami apa adanya. Tujuanya sangat jelas: agar kita tidak bertanya, tidak paham akan plot atau alur  sejarah, menghindari kita dari pertanyaan soal pemeran utama dan juga antagonis dalam kisah pandemi di dekade kedua abad 21 ini. Yang terpenting niat dan konsekuensi tidak dibahas tuntas.

Ketidaknormalan Sebelum New (Ab)Normal

Memahami dunia saat ini, akan sangat terbatas jika kita terjebak dalam kecenderungan presentism. Akibatnya, ada kecenderungan memahami dunia sebelum diserang wabah Covid-19 sebagai dunia yang normal sehingga kita dibawa pada suatu pembayangan bahwa setelah covid yang terjadi adalah suatu normal baru.

Kita saat ini, seperti yang ditulis oleh Era D. Norris, Vitor Gaspar, dan Kalpan Kochar dari IMF,  menyaksikan mobilisasi sumber daya untuk tujuan publik dalam skala yang sama saat kita berada dalam situasi perang. Namun, perang saat ini adalah perang melawan musuh bersama. Mengajak membayangkan situasi sekarang sebagai perang bersama, membawa kita pada memori historis dan juga traumatik di awal milenium, di mana dunia diajak untuk melakukan perang melawan  terorisme (Global War on Terrorism). Dari sanalah kita mulai dengan ketidaknormalan baru di awal abad ke-21.

Perang melawan terorisme, memiliki makna yang fundamental dan tragis bagi catatan sejarah dunia, tidak hanya karena dunia diajak untuk membangun narasi dominan tentang bahaya “Islam radikal” dengan sifat peyoratifnya sebagi teroris, namun juga karena wacana tentang perang telah mengubah secara fundamental bagaimana dunia ditata dan diatur melalui perang. 

Jika perang dalam kerangka modernitas dipahami sebagai suatu ketegangan antara dua atau lebih negara bangsa untuk menjaga atau mempertahankan kedaulatanya, perang di dalam era global war on terrorism,  adalah suatu prinsip regulatif dan imperatif untuk mengontrol aspek kehidupan secara mendasar dan menyeluruh, mengatur hidup dan mati kita. Perang di sini, memiliki watak biopolitik.

Pergeseran mendasar ini, dikondisikan oleh konstruksi kedaruratan permanen sejak Peristiwa 9/11, 2001 di New York. Sejak saat itu, kekuatan global di bawah komando Amerika memantapkan apa yang dikenal state of exception, yakni kontrol total melampaui fundasi hukum apa pun. Di sinilah tindakan melawan terorisme tidak lagi membutuhkan konstruksi tentang Hak Asasi Manusia, bahkan tanpa halangan bisa mengangkangi hukum internasional yang mengatur kedaulatan suatu negara. 

Dalam kondisi ini, siapa pun, baik tubuh negara maupun tubuh individu, akan memiliki kerentanan yang sama untuk terjermus ke dalam suatu matrix of evil. Ilustrasi tentang Afganistan bisa menjadi cerita paradigmatik tentang ini, atau juga kisah Jean Charles de Menezes yang terbunuh sia-sia di London tahun 2005 karena dicurigai sebagai seorang teroris berdasarkan kesewenangan regim surveillance. Jika ingin menarik satu kesimpulan besar, maka war on terorrism adalah upaya selama dua dekade terakhir untuk merawat dominasi dari global empire.

Lalu apakah perang melawan covid memiliki keserupaan dari sisi kehendak untuk berkuasa? Atau ini hanya persoalan kemanusian seperti yang banyak dinarasikan selama ini? apakah tidak tampak sangat jelas bahwa pandemi menjadi momen kunci untuk merumuskan ulang tata dunia versi kekuatan global empire

Jika melihat jejak sejak awal milenium dan apa yang menggejala saat ini, maka bisa dipastikan dunia tidak sedang bergerak dari suatu yang normal ke normal baru, tetapi pengulangan rutin tentang ketidaknormalan dunia di bawah kehendak untuk mengontrol dan mengendalikan kekuatan global empire.

Great Lockdown: Lumpuhnya Tubuh Sosial

Great Lockdown adalah rumusan yang diarusutamakan oleh IMF untuk mengambarkan kondisi dunia yang tidak bergerak, lumpuh karena serangan Covid-19. Ketika dunia mengalami great lockdown maka tubuh negara mendadak mengalami kelumpuhan dan tubuh-tubuh indivdu pun berhenti bergerak melintasi ruang yang sudah semakin kehilangan batasnya. Kita seperti Odyssey yang dikurung oleh dewi Calypso di suatu pulau terpencil.

Cerita tentang dunia yang berhenti bergerak bukan cerita baru. Pada abad ke-17, di Eropa, dalam tulisanya tentang Discipline and Punish, Foucault secara detail menggambarkan bagaimana wabah telah menyebabkan kota mengalami kelumpuhan total, frozen and immobile city. Tidak ada manusia yang boleh berinteraksi. Bahkan tidak ada kebijakan work from home, yang terjadi justru, setiap orang dikunci di dalam rumah dan kuncinya dipegang oleh otoritas kota. Hanya jendela yang dibiarkan terbuka untuk memastikan proses inspeksi rutin tenaga medis dan otoritas politik setempat. Bagi Fouacult, Wabah telah melahirkan suatu praktik pendisiplinan total. Kota sebagai suatu tubuh sosial didisiplinkan sedemikian rupa, begitu pula tubuh manusia, tunduk pada regim kontrol dan pendisiplinan.

Great Lockdown adalah cerita baru tentang bekerjanya mekanisme pendisiplinan total. Tubuh negara dan tubuh populasi menjadi objek intervensi dan kontrol. Kita menyaksikan bagaimana ruang-ruang interaksi dan manusia itu sendiri mengalami medikalisasi. Siapapun wajib mencuci tangan, dalam istilah Yuval Noah Harari, saat ini sabun telah berubah menjadi polisi, the Soup Police. Selain medikalisasi, kita pun hidup dalam ruang yang dipisahkan, baik dalam skala besar, misalnya kebijakan PSBB, ataupun model pendistribusian ruang dalam unit-unit paling kecil, individualizing of space, yang kita temukan dalam kebijakan jaga jarak.

Sumber: International Monetary Fund

Tubuh populasi dan tubuh negara dalam momen great lockdown harus selalu dipastikan kondisinya. Tubuh manusia perlu terus-menerus dideteksi, baik suhunya maupun kondisi secara menyeluruh. Rapid test menjadi tindakan paling menentukan agar setiap orang bisa bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Dalam momen great lockdown, bukan hanya tubuh manusia yang dipastikan sehat oleh kebijakan rapid test, tubuh negara pun dipastikan bisa bertahan dan disembuhkan dari krisis ekonomi. Selain kebijakan yang dikeluarkan di level nasional oleh masing-masing negara terkait hal ini, IMF hadir dengan kebijakan Rapid Financing Instrument (RFI) dan Rapid Credit Instrument (RPC), suatu skema intervensi keuangan untuk negara-negara miskin dan berkembang di berbagai region. Dalam situasi krisis seperti ini, IMF kembali membaptis dirinya sebagai penyelamat ekonomi bagi negara mana pun, seperti yang dikatakan Gita Gopinath, "in the current crisis, we have a stronger global financial safety net-with the IMF at its center-that is already actively helping vulnarable countries".

Sumber: diolah dari situs resmi IMF

Berbagai mekanisme pendisiplinan yang mengontrol tubuh dan bentuk-bentuk intervensi ekonomi berjalan bersamaan dengan pergerakan sektor-sektor bisnis kesehatan. Big Pharma bergerak cepat dan berlomba untuk menemukan vaksin. Siapa yang dapat memenangi perlombaan ini akan menjadi game changer. Selain itu, pandemi mempertegas peran kunci dari Big Tech sebagai penentu relasi baik sosial maupun ekonomi. Secara singkat, kita bisa mengatakan bahwa dalam momen great lockdown kita melihat bagaimana semua kekuatan politik dan sosial di dunia bekerja untuk memastikan tiga hal: order, ekonomi, dan kesehatan.

Ketika dunia mengalami great lockdown, satu hal yang tidak terhindarkan adalah bayangan mengenai kemungkinan yang akan muncul setalah pandemi. Banyak pihak yang menyumbangkan pemikiran terkait ini. Harari membayangkan dunia yang bisa jadi mengalami gejolak antara global solidarity vs populis nasionalis dan regim surveillance negara melawan citizen empowermentZizek melihat dunia pasca covid adalah dunia yang perlu dibangun di atas apa yang dia sebut sebagai new communism

Namun demikian, satu narasi yang begitu kuat datang dari Davos, jantung dari kekuatan neoliberal global atau simpul kunci dari global empire. Melalui chairman World Economic Forum, Klaus Schwab, mereka mengusung suatu upaya perubahan fundamental yang mereka namakan Great Reset. Menurut Schwab, Great Lockdown adalah momen krisis yang mendorong siapa pun untuk perlu memikirkan perubahan mendasar.

Wacana ini menjadi penting untuk didiskusikan karena dari sini lah tatanan dunia baru mulai dipikirkan. Kita perlu memahami ini sebagai suatu upaya kesekian kali dalam upaya membentuk kembali tata dunia baru dan perlu mendiskusikan kekuatan mana yang sedang mengendalikan dan mengarahkan perubahan ini.

Great Reset: Narasi “orang-orang baik” dari Porto Davos

Great Lockdown adalah kondisi penting bagi kekuatan global untuk memikirkan perubahan. Seperti dalam logika shock doctrine, krisis akan selalu melahirkan perubahan dan perubahan itu sangat tergantung pada ide dan pemahaman kita tentang krisis tersebut. 

Naomi Klein mengajukan dua pertanyaan mendasar terhadap tesis ini : ide siapakah yang akan mendefiniskan krisis? Apakah lahir dari pemikiran progresif ataukah datang dari cara berpikir kelompok fundamentalis pasar? 

Jika kita melihat alur dari narasi yang ada saat ini dari Great Lokcdown yang disuarakan oleh IMF ke Great Reset yang diartikulasikan oleh salah  satu sentrum kapitalisme dunia, WEF, maka kita bisa mengatakan bahwa definisi terhadap kirisis dan juga tawaran perubahan terhadap krisis pasti datang dari kelompok fundamentalisme pasar. Di sinilah istilah Naomi Klien tentang Coronavirus Capitalism menjadi masuk akal.

Klaus Schwab, pendiri sekaligus pemimpin World Economic Forum, menegaskan bahwa Covid menjadi alasan utama untuk memikirkan perubahan fundamental yang disebut Great Reset. Ada tiga komponen penting dalam perubahan tersebut: pertama, mendorong pasar bekerja untuk menciptakan outcome yang lebih adil; kedua, investasi yang berorientasi pada keberlanjutan dan tujuan bersama; ketiga, mendorong perubahan berbasis pada revolusi indusri 4.0. Melalui tiga komponen perubahan ini, kita diajak untuk berpikir tentang masyarakat yang inklusif, pasar yang ramah lingkungan, dan kecanggihan dunia dalam kuasa teknologi khususnya digital market.

Satu hal yang tidak dapat disangkal dari ide perubahan ini adalah basis ideologinya yang berdiri tegak di atas kapitalisme. Diktum tentang tidak ada alternatif kembali terulang, bahkan ketika memikirkan perubahan, maka perubahan itu tidak lahir dari suatu alternatif di luar kapitalisme. 

Great Reset dibangun di atas konsep stakeholder capitalism. Konsep ini menjadi suatu revisi sederhana terhadap model shareholder dan juga state capitalism. Schwab percaya bahwa stakeholder kapitalisme meposisikan korporasi sebagai wakil dari masyarakat atau komunitas itu sendiri. Dengan demikian, kapitalisme jenis ini adalah kapitalisme yang tidak mencari untung sendiri namun keungutngan adalah milik bersama. Bahasa seperti pro lingkungan, social responsibility, dan transparansi menjadi metric standard yang memastikan kapitalisme memiliki wajah humanis.

Rumusan di atas begitu ideal sehingga sulit membayangkan posisi alternatif yang bisa kita dorong untuk mempersoalkan agenda Great Reset. Di mana pintu masuk kita mempersoalkan hal tersebut? 

Mari kita coba membayangkan wajah Bill Gates di dalam barisan penyokong ide perubahan tersebut. Kesan awal kita adalah kita berjumpa dengan seorang dermawan global yang hidupnya sudah tidak lagi mencari kekayaan tetapi didedikasikan untuk menyumbang orang-orang miskin di Afrika, Asia, dan belahan bumi lain. Dia katanya adalah “the true global citizen” yang terlibat dalam aksi-aksi kemanusian. Membantu orang yang bermasalah dari sisi pendidikan dan juga membantu persoalan kesehatan di berabagai belahan dunia. 

Namun, jika kita sedikit mau bertanya, dari mana kekayaannya itu ia dapatkan, maka kita akan mendapatkan cerita utuhnya. Jawaban akan pertanyaan ini akan membantu kita keluar dari basis fantasmatik nalar kapitalisme saat ini, yakni, capitalism with the human face.  Bill Gate, mampu menolong orang miskin karena dia tipe kapitalis yang tega melumpuhkan kompetitornya dengan cara apa pun bahkan berinvestasi untuk mendulang keuntungan di dalam masa pandemi ini. Bukankah cerita tentang ini seperti iklan chocolate laxative yang dijual di Amerika Serikat? Do you have constipation? Eat more of this chocolate! 

Dalam konteks sosial, logika ini tidak bedanya dengan pernyataan berikut: 

Jika ingin keluar dari penderitaan terimalah bantuan dari orang yang juga mencipatakan penderitaan, jika ingin merasakan sedikiti keadilan terimalah bantuan dari orang yang ahli dalam mencipatakan ketidakadilan.

Kita persis disituasikan dalam kondisi paradoksal saat ini. Great Reset menjadi semacam Chocolate Laxative,  yang ditawarkan ke dunia saat ini oleh WEF. Forum ini adalah forum ekonomi dunia yang dikendalikan oleh kekuatan globalis atau menjadi bagian penting dari global empire saat ini. Mereka menentukan standar global dari bekerjanya kapitalisme, mereka terhubung dengan kelompok lobi untuk mengendalikan ekonomi nasional, dan mereka menjadi bagian intim dari negara-negara kapitalis dunia. Sejak tahun 1970an, Davos yang menjadi rumah bagi WEF, telah menjadi sentrum penting dari kapitalisme dunia.

Lalu, apakah hal baru ketika jaringan globalis ini berbicara tentang perubahan dunia, berbicara tentang tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan? 

Cerita ini sebenarnya bukan cerita baru yang muncul tiba-tiba di saat pandemi. Slavoj Zizek, mendeteksi perubahan paradoksal yang terjadi di Davos. Jika sebelumnya di level global kita menyaksikan perseteruan antara geng Davos yang percaya dengan diktum “there is no alternative” versus geng Porto Alegre yang yakin bahwa “another world is possible” maka dalam beberapa dua dekade terakhir kita justru melihat bahwa tidak ada lagi perseteruan tersebut, saat ini justru kita melihat geng Porto berkumpul bersama di Davos. 

Inilah yang melahirkan kelompk yang disebut Zizek, good men from porto davos. Dalam formasi baru ini, kapitalisme tidak lagi semata bekerja dalam nalar eros (kehendak untuk akumulasi) namun juga dalam nalar tymos (kehendak untuk mendapatkan rekognisi publik). Apa yang terjadi dalam tubuh kapitalisme dunia adala immanent self-overcoming.

Tetapi kita perlu mewaspadai ketika kapitalisme berubah wajah seperti ini, Seperti yang diakatakan oleh Peter Sloterdijk: Capitalism culminates when it creates out of itself its own most radical opposite. Kapitalisme mencapai puncaknya ketika ia menciptakan wujud dirinya yang sangat berbeda. Bisa jadi ketika dalam Great Reset, kapitalisme berbicara tentang masyarakat inklusif, peduli tentang lingkungan dan merayakan peran fundamental dari teknologi digital, di situlah kita sedang dipaksa masuk untuk tidak lagi memikirkan alternatif lain di luar kapitalisme.

Lalu, bagaimana kita memulai untuk berpikir tentang alternatif dari wacana Great Reset? 

Kita bisa memulainya dengan melihat kontradiksi dalam wacana Great Reset. Satu tujuan dari Great Reset adalah mempercepat pengintegrasikan masyarakat global ke dalam dunia digital atau mendorong kita untuk menerima begitu saja gagasan tentang Revolusi 4.0. Pandemi pun menjadi semacam disrupsi alamiah yang menjustifikasi hal tersebut.  

Namun, apa yang tersembunyi atau tidak dibahas dalam upaya mendorong great reset adalah perdebatan tentang Surveillance Capitalism. Shoshana Zuboff secara tegas melihat bahwa pandemi menjadi alasan bagi Big Tech untuk memperkuat beroperasinya surveillance capitalism, bahkan dengan sarkas dia menyebut bahwa saat ini kita sedang berada dalam pandemi Covid 19(84). Istilah ini diambil dari novel karya George Orwell, 1984 yang menjelaskan lumpuhnya kebebasan karena totalitarianisme yang bekerja melalui kontrol dan pengawasan total terhadap individu. Nalar kekuasaan serupa berlaku saat ini, melalui industri digital, yang privacy telah menjadi sesuatu yang privat

Zuboff menjelaskan bahwa dalam pasar digital, pengalaman hidup kita, perilaku kita, perasaan kita, orientasi kita, menjadi bahan baku yang diambil bebas oleh kekuatan kapitalis. Kapitalisme hidup dan membiak di atas kelimpahan perilaku yang diawasi dan kemudian dikelola untuk menghasilkan produk berupa prediksi atas kecenderungan populasi yang sangat bermanfaat bagi berlangsungnya kapitalisme. Dalam kondisi ini, means of production tunduk pada means of behavioral modification. Perkembangan seperti ini, membuat kita tunduk pada pada spesies baru kekuasaan yang disebut “instrumentarianism power, yakni kekuasaan yang mengetahui dan membentuk perilaku kita untuk tujuan atau kepentingan kapitalisme.

Pemandangan umum instalasi oleh seniman jalanan terkenal Banksy pada 2 Oktober 2019 di Croydon, Inggris. Toko bernama 'Produk Domestik Bruto' muncul di malam hari dan menampilkan rompi tusuk yang ia rancang untuk aksi utama Stormzy di Festival Glastonbury dan buaian yang dikelilingi oleh kamera CCTV, di gerai ritel bekas di Croydon. (Photo by Peter Summers/Getty Images)

Selain problem surveillance capitalism, great reset juga mengabaikan apa yang disebut auto-exploiting. Fenomena ini menjelaskan bagaiamana kreativitas anak muda dibajak untuk memperkuat kerja akumulasi dalam kapitalisme. Kreativitas dianggap sebagai roh penting dalam kapitalisme lanjut, yang secara paradoksal justru melahirkan fenomena yang disebut oleh Byung-Chul Han “burnout society”, masyarakat yang kelelahan. Dalam kondisi ini kita menjadi master sekaligus slave dalam waktu bersamaan. Bahkan perjuangan kelas bertransforamsi menjadi perjuangan dalam diri masing-masing orang. Individu yang  mejadi “achievement subject”.

Kontradiksi yang kita lihat dan alami dalam perkembangan kapitalisme sama sekali tidak menjadi bagian dari agenda Great Reset bahkan justru dengan sengaja mereproduksinya. Pada titik inilah Great Reset tidak bisa dilihat sebagai alternatif bagi kita namun justru menjadi agenda lanjutan dari kekuatan global empire untuk memperkuat posisi kuasanya di seluruh bumi. 

Seperti perang melawan terorisme di awal milenium bertujuan menciptakan dan memperkokoh global order, perang melawan covid pada dekade kedua milenium ini bisa jadi dan hampir pasti, melalui agenda Great Reset, menjadi agenda untuk memperkuat kembali kuasa dan kontrol empire yang terganggu oleh berbagai kemunculan kekuatan populis dari negara-negara yang ingin keluar dari kontrol empire.  Untuk itu kita perlu hati-hati dengan wacana perubahan. 

Seperti kata Zizek: jika mereka berubah sekarang, itu bukan karena mereka ingin menerima realitas, tetapi karena mereka ingin mengubah dunia, benar-benar ingin merevolusi hidup kita. Untuk tujuan apa? 

sekian!

 

Comments