Skip to main content

Menemukan Kembali Pesona Guru di Abad Ke-21*


(Meningkatkan Kompetensi Guru Melalui Platform KOCO Schools)


Terlalu banyak kekeliruan ketika kita berbicara tentang kompetensi guru berhadapan dengan revolusi digital.
Dalam percakapan sehari-hari, kita sering dibuat bingung dan gagap dengan rumusan pertanyaan yang keliru: apakah tugas guru akan digantikan dengan teknologi di masa depan?

Padahal, pertanyaan tersebut keliru dan mesti diubah menjadi lebih tepat:

Guru seperti apa yang akan digantikan oleh teknologi dan jenis guru macam apa yang tidak bisa diganti perannya oleh teknologi?

Jawabannya jelas: guru yang teknis, repetitif, tidak kreatif, itulah yang akan diganti oleh teknologi. Tapi guru yang mengajarnya inovatif, imajinatif, tidak akan bisa digantikan perannya oleh teknologi.

***  
Indonesia Dragonfly Society mengenalkan capung dan habitatnya kepada pelajar Sekolah Dasar Negeri 2 Mangliawan. Sumber foto: dokumentasi IDS.

Mempertimbangkan bahwa saat ini kita menggenapi apa yang disebut oleh John Walker pada tahun 1988 sebagai proyek “Pintu masuk ke dalam cyberspace”, dibutuhkan adanya revolusi dalam bidang pendidikan dan pengajaran, diantaranya peningkatan kompetensi para guru.

Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Permen Nomor 17 Tahun 2007 tentang kualifikasi dan standar kompetensi guru secara tersurat telah menegaskan bahwa guru profesional dituntut bukan hanya memiliki kemampuan mengajar sebagaimana disyaratkan dalam standar kompetensi pedagogik, namun guru juga harus mampu mengembangkan profesionalitas secara terus menerus sebagaimana tertuang dalam kompetensi profesional.

Guru juga dituntut mampu menjalin komunikasi yang efektif dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat sebagaimana disyaratkan dalam kompetensi sosial serta memiliki kepribadian yang baik sebagaimana dideskripisikan pada kompetensi pribadi (BP Paud & Dikmas Lampung).

Absen belajar dari hal di atas, tidak sedikit guru yang menerjemahkan peningkatan kompetensi dengan mengikuti berbagai jenis webinar. Dengan kata lain, webinar dianggap sebagai cara paling tepat untuk meningkatkan kompetensi. Namun apakah cara itu tepat? Jangan-jangan yang dicari justru hanya sertifikat?

Bertolak dari latar belakang di atas, tulisan ini memiliki tujuan dua arah yakni memperkenalkan sekaligus menjadikan KOCO sebagai wadah strategis meningkatkan kompetensi para guru di Indonesia.

KOCO merupakan perusahaan EdTech yang berkembang pesat di Asia, dengan kantor di Singapura, Indonesia, dan India. Sebagai platform Learning Management System (LMS) yang integratif, KOCO School hadir dengan penekanan utama pada kolaborasi antara guru, sekolah, siswa, dan orangtua.

Kolaborasi! Itu kata kunci penting yang nyaris raib dalam kancah pendidikan Indonesia hari ini. Disebut penting karena kecerdasan tidak lahir dari proses belajar yang dilakukan secara individual saja.

Tidak ada orang yang cerdas sejak lahir. Mengapa? Ya, karena kecerdasan dibentuk justru melalui pembelajaran kolaboratif dalam suasana kolektif-kolegial.

Namun, untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan guru yang memiliki kompetensi untuk itu. Seperti apa kompetensi guru yang dibutuhkan pada abad ke-21 ini?

Kompetensi Guru Abad 21


Di bawah ini terdapat empat (4) kompetensi yang mesti dimiliki oleh seorang guru. Kompetensi-kompetensi tersebut dibahas dengan memperhatikan dimensi terkait yakni kritis, kolaboratif, komunikatif dan kreativitas.

Pertama, Kompetensi Pedagogik yaitu kemampuan yang berhubungan dengan karakteristik peserta didik dari berbagai aspek antara lain fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan tentu saja intelektual.

Dibahasakan secara berbeda, bagaimana para guru dapat menciptakan peluang bagi para siswa untuk mengembangkan potensi dan keterampilan mereka secara bersamaan?

Menjawabi pertanyaan di atas, seorang guru hendaknya mampu menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran mengingat betapa variatifnya latar belakang para peserta didik. Dengan kata lain, seorang guru juga mesti sanggup mengembangkan kurikulum di tingkat satuan pendidikan masing-masing dan disesuaikan dengan kebutuhan lokal.

Mengingat bahwa peserta didik berasal dari latar belakang yang berbeda, muncul pertanyaan lain yakni bagaimana para guru dapat meningkatkan kemampuan mengjar yang melibatkan peserta didik dengan tujuan, kelebihan, dan motivasi yang berbeda di dalam satu kelas? Bagaimana caranya seorang guru mengkomunikasikan mata pelajarannya dengan mata pelajaran guru lain?

Menjawabi pertanyaan ini, posisi kolaborasi antarpara guru sangat penting selain sebagai medan saling belajar dan bertukar informasi tapi juga menularkan semangat serupa bagi peserta didik.

Kompetensi pedagogik juga berhubungan dengan keluasan wawasan dalam mengakses infomasi atau literasi informasi. Mengenai hal ini, muncul pertanyaan: apakah para guru mampu menggali lebih dalam informasi yang dutemukan dari sumber yang tidak kredibel?

Apakah para guru bisa memanfaatkan media dan platform digital yang tersedia untuk memaksimalkan produktivitasnya sebagai pendidik? Bagaimana caranya guru mengajak dan meyakinkan peserta didik untuk memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran alih-alih nyaman dengan metode belajar yang konvensional?

Kompetensi pedagogik juga berhubungan dengan fleksibilitas atau kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang berubah serba cepat. Maksudnya, apakah para guru terbuka dengan perubahan seperti hybrid learning? Apakah para guru proaktif membuat keputusan dalam situasi yang berubah itu ataukah menunggu diberikan panduan?

Mampukah para guru berkolaborasi dengan guru lain melalui teknologi untuk menciptakan sesuatu? Mampukah para guru bertanggung jawab atas keberhasilan maupun kegagalan tanpa menyalahkan orang lain? (Bandingkan, blog.kocoschool.com, 10 September 2021).

Sumber foto: Facebook KOCO School.
 
Kedua, kompetensi Kepribadian yaitu kemampuan seorang guru dalam melaksanakan tugasnya dengan tetap memerhatikan tata nilai yang dianggap baik dan berlaku dalam masyarakat. Tata nilai ini termasuk norma, moral, estetika, dan ilmu pengetahuan yang mempengaruhi perilaku etik peserta didik sebagai pribadi dan sebagai anggota masyarakat.

Oleh karena itu, seorang guru dituntut harus mampu mengajarkan peserta didiknya tentang disiplin diri, belajar membaca, mencintai buku, menghargai waktu, belajar bagaimana cara belajar, mematuhi aturan/tata tertib, dan belajar bagaimana harus berbuat. Semuanya itu akan berhasil apabila guru juga disiplin dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Guru harus mempunyai kemampuan yang berkaitan dengan kemantapan dan integritas kepribadian seorang guru.

Ketiga, Kompetensi Sosial yaitu menjadi pribadi panutan yang perlu dicontoh dalam kehidupanya sehari-hari baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat. 

Kemampuan sosial meliputi kemampuan guru dalam berkomunikasi, bekerja sama, bergaul simpatik, dan mempunyai jiwa yang menyenangkan. Dengan kemampuan tersebut, otomatis hubungan sekolah dengan masyarakat akan berjalan dengan lancar, sehingga jika ada keperluan dengan orang tua peserta didik, para guru tidak akan kesulitan.

Keempat, Kompetensi Profesional yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru dalam perencanaan, pelaksanaan proses pembelajaran, dan melakukan evaluasi. 

Dalam hal perencanaan, guru harus mampu menyiapkan materi pengajaran yang dilakukan dengan cara mencari informasi melalui berbagai sumber seperti membaca buku-buku terbaru, mengakses dari internet, selalu mengikuti perkembangan dan kemajuan terakhir tentang materi yang disajikan (up to date).

Sementara itu, dalam hal pelaksanaan proses pembelajaran guru harus mampu menyampaikan bahan pelajaran yang diperoleh melalui latihan, pengalaman, dan kemauan belajar yang tidak pernah putus. Di sini, keaktifan peserta didik harus selalu diciptakan dan berjalan terus dengan menggunakan metode dan strategi mengajar yang tepat. Guru menciptakan suasana yang dapat mendorong pesertadidik untuk bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta dan konsep yang benar. Persis di era digital saat ini, guru juga hendaknya melakukan kegiatan pembelajaran menggunakan multimedia, sehingga terjadi suasana belajar sambil bekerja, belajar sambil mendengar, dan belajar sambil bermain, sesuai konteks materinya.

Bagian penting lain yakni kebiasaan melakukan evaluasi baik secara praktik maupun teoretik. Evaluasi seperti ini berlangsung dua arah baik bagi peserta didik maupun para guru sendiri. Bagi peserta didik, guru menguji sekaligus mengukur sejauh proses pengajaran mencapai tujuan yang diinginkan. Oleh sebab itu, jenis tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar harus benar dan tepat. Bahkan, tes tersebut dapat digunakan untuk memotivasi peserta didik untuk terus belajar. Bagi para guru, evaluasi penting untuk melihat sejauh mana perkembangan metode dan substansi pengajaran dari hari ke hari.

Mengenai hal ini, KOCO Schools membantu proses penilaian baik secara kognitif maupun nonkognitif di mana para guru dapat mengakses perkembangan siswa secara keseluruhan dan individual, menganalisis sikap mereka, dan mengetahui kepuasan dan kesulitan yang dihadapi siswa selama proses belajar mengajar. 

Fitur KOCO School dibuat gratis dan dapat digunakan oleh guru dari mana saja. Silakan kunjungi lamannya dengan mengklik tautan ini.

Sumber foto: laman KOCO School.

 

Peluang dan Tantangan: Percik Harapan dari KOCO School


Meskipun demikian, saat ini kita berhadapan dengan beberapa problem antara lain:

Pertama, ketimpangan infrastruktur digital

Berdasarkan dari survei yang dilakukan oleh APJII 2019-2020 (Q2), kontribusi penetrasi internet per wilayah masih didominasi oleh Jawa (56,4%), diikuti Sumatera (21,1%), Sulawesi (7,0%), Kalimantan (6,3%), Bali dan Nusa Tenggara (5,3%), dan terakhir Papua (3%). Mengatasi ketimpangan infrastruktur digital tersebut, butuh kolaborasi antarsektor. Disebut demikian karena aksesibilitas terhadap teknologi digital berpengaruh secara signifikan terhadap aksesibilitas terhadap pengetahuan (digital knowledge), ekonomi (digital economy), dan seterusnya. Itu berarti, pendidikan bukan hanya tugas kementerian pendidikan melainkan tanggung jawab semua sektor.

Persis dalam upaya mengatasi problem ini, KOCO hadir memberi jawaban. Sebagai startup Edtech, KOCO School membawa visi “Menciptakan Komunitas Belajar yang Setara di Masa Depan”. Itu terbukti dengan adanya berbagai jenis program diantaranya #NoChildLeftBehind melalui KOCO School Academy yang berupaya mendampingi guru untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional dengan periode 3-12 bulan. Ada tiga produk yang ditawakan yakni KOCO School, KOCO Space, dan KOCO Quiz Bank. Masing-masing produk di atas akan saya jelaskan dalam poin-poin selanjutnya.
Tiga produk KOCO. Sumber foto: laman KOCO School. 
 
Kedua, cerdas menggunakan digital

Ini berhubungan dengan dua hal yakni bagaimana semua pihak terkait tahu mengoperasikan aplikasi daring yang diperlukan dan bagaimana menggunakan aplikasi itu untuk menunjang produktivitas proses belajar mengajar. Berdasarkan data dari internetworldstats.com, pengguna internet Indonesia per 30 Juni 2021 mencapai 212,35 juta jiwa dan menjadi negara ketiga setelah China dan India dengan pengguna internet terbanyak di Asia. 

Meskipun demikian, terdapat laporan lain yang menunjukkan bahwa keterpaparan orang pada internet tidak otomatis cerdas dan bijak dalam menggunakannya. Laporan Survei Internet APJIII 2019-2020 (Q2) menunjukkan bahwa sebanyak 51,5% menggunakan untuk media sosial, 29,3% menggunakannya untuk komunikasi lewat pesan, 21,7% menggunakannya untuk hiburan, dan 19,0% menggunakannya untuk layanan informasi pendidikan.

Sedikitnya penggunaan internet untuk proses belajar di atas membawa konsekuensi lanjut yang dapat kita temukan dalam proses pengajaran, di mana platform yang digunakan oleg guru tidak integratif, minat belajar siswa yang menurun, dan banyaknya gangguan lain di luar konteks pendidikan.

Mengatasi hal ini, KOCO School menawarkan banyak kemudahan diantaranya fitur pengiriman tugas otomatis, perpustakaan pribadi, penggunaan platform zoom yang integratif, dan akses ratusan buku Kemendikbud secara gratis. 

Tidak berhenti di situ, ada juga KOCO Quis Bank yang menyediakan hingga lebih dari 35.000 soal yang fokus pada Sains, Literasi, dan Numerasi.

Ketiga, Proses Belajar Mengajar Tidak Berkelanjutan

Mengatasi hal di atas, para guru perlu memberikan penugasan reguler dan berkelanjutan kepada siswa, mengurangi kecanduan siswa pada konten yang tidak edukatif. Satu contoh yang bagus berasal dari India, di mana National Association of Software dan Service Companies (NASSCOM) bekerja sama dengan NGO dan Pemerintah India membangun Literasi Digital Nasional di seluruh pelosok India (How Do We Make Sure Our Children Are Fluent in Digital? 4 Januari 2017). Terobosan itu dilakukan mengingat tanpa adanya literasi digital, masyarakat diprediksi akan sulit beradaptasi dengan bentuk-bentuk dunia masa mendatang entah itu sistem ekonomi politik, pendidikan, ketenagakerjaan, lingkungan, kesehatan, dan pertahanan keamanan.

Menanggapi keterbatasan masyarakat pendidikan dalam beradaptasi, KOCO School hadir dengan menawarkan sekaligus mendorong proses belajar yang berkelanjutan. Itu tampak dalam beberapa program dan produk yang ditawarkan.

Untuk mengatasi problem belajar online integratif misalnya, KOCO menawarkan LMS yang merupakan solusi pembelajaran satu akses yang terintegrasi untuk guru, siswa, dan orangtua baik secara online maupun bybrid seperti pembelajaran tatap muka terbatas yang sedang dilakukan saat ini.

Hal yang sama juga berhubungan dengan pentingnya aspek keberlanjutan di mana KOCO menawarkan produk kedua yakni KOCO Space sebagai platform digital bagi orang tua untuk mengelola pekerjaan rumah anak mereka dan di mana anak-anak memiliki ruang aman mereka sendiri untuk belajar. Ini adalah pendamping pendidikan yang membantu anak Anda di setiap langkah.

Keempat, Kurangnya Inovasi dari Guru dan Sekolah dalam Bidang Pendidikan

Problem lain yakni masih terbatasnya inovasi kebiajakan sekolah yang mampu memfasilitasi pemeblejaran guru, masih kurang kepeloporan dan perintis di kalangan para guru. Kebiasaan lama, masih fokus ke mata pelajaran masing-masing, masih ada label sekolah unggulan tidak unggulan, metode perangkigan yang membuat guru dan siswa tidak percaya diri.

Mengatasi problem ini, tentu saja KOCO School menciptakan iklim yang memungkinkan bertumbuhnya kreativitas dan inovasi di bidang pengajaran termasuk belajar bagaimana menciptakan konten yang edukatif. Ini dicapai dengan mengedepankan lima nilai yang menjadi karakteristik KOCO yakni: 

Pertama, courage (keberanian). Membuat orang menjadi berani menginspirasi dan menciptakan masa depan yang lebih baik. Kedua, kolaborasi (collaboration). Kerja sama tim yang berkontribusi menghasilkan sesuatu. Ketiga, komunitas (community) memungkinkan orang bertumbuh bersama-sama. Keempat, kecerdasan (agility) termasuk fleksibel dan bergerak cepat mencapai visi tertinggi. Kelima, fokus pada dampak (focus on Impact). Membuat perbedaan dengan menciptakan dampak dalam komunitas yang dilayani.

Nilai yang ditawarkan oleh KOCO. Sumber foto: laman KOCO.

 
Tidak berhenti di situ, KOCO juga menyediakan beberapa publikasi yang dapat Anda unduh (klik tautan ini: publikasi ebook KOCO School) sebagai salah satu cara mendesiminasi gagasan tentang belajar digital.

Beberapa contoh ebook KOCO School. Sumber foto: laman KOCO School.

 
Last but not least, menjadi guru itu berhubungan dengan pengabdian yang berlangsung sepanjang hidup. Inilah yang membuat peran seorang guru menjadi begitu luhur sekaligus sulit. 

Artinya, kualitas pendidikan Indonesia sangat ditentukan oleh kemauan para guru untuk terus belajar sesuai dengan perkembangan zaman. Diringkas dalam bahasa hiperbolis, para guru adalah peserta didik seumur hidup. Alangkah celakanya dunia jika para guru mengabaikan hakikatnya ini.

*Artikel ini meraih juara dua dalam kompetisi menulis blog yang diadakan oleh KOCO School.

Comments