Skip to main content

Membentuk Kenangan, Mengantisipasi Masa Depan*

 (Merayakan HUT Ke-53 PT Semen Tonasa)

Kantor Pusat Semen Tonasa di Biringere, Pangkep, Sulawesi Selatan, 90651. Sumber Gambar: www.sementonasa.co.id
 

How many weeks are in a day?
and how many years in a month?

(Pablo Neruda, The Book of Questions, XXII)


Lima puluh tiga bukan sekadar angka. Ia menjelma sejarah yang membuktikan bahwa manusia diciptakan bukan hanya dari berlaksa sel tapi juga dari kisah, ingatan, dan harapan. Inilah yang membuat, bagaimana pun juga, mustahil kita mengalami sejarah di luar tempat (place) sebagai titik tolak kita mengabstrasikan ruang (space). Singkatnya, merayakan HUT selalu berarti merayakan perjumpaan kita dengan beragam ruang dan tempat.

Perpsektif ini menjadi sangat penting dibahas persis ketika PT Semen Tonasa merayakan HUT ke-53. Jamak diketahui bahwa lembaga tersebut berperan penting dalam bidang konstruksi dan arsitektural Indonesia. Dengan demikian, merayakan HUT senantiasa mengingatkan kita bahwa bangunan adalah wadah aktivitas manusia dan simbol peradaban kita. Dalam dan melalui sebuah bangunan, kita perlu bertanya, bagaimana kita harus menjalani hidup kita dan bagaimana masyarakat kita seharusnya berfungsi.

Bangunan Mencerminkan Peradaban


Pertanyaan-pertanyaan ini telah diselidiki dan dipecahkan oleh para filsuf sepanjang sejarah. Di situ, filsafat membentuk dasar dari apa yang kita pikirkan dan lakukan, dan dalam pengertian yang sama, dari apa yang kita rancang, kita lihat, kita bayangkan, kita gunakan, dan kita huni. Dengan kata lain, visi dan pandangan hidup sebuah masyarakat tercermin dalam bangunan karena arsitektur memberikan jawaban praktis untuk pertanyaan-pertanyaan filosofis.

Ilustrasi oleh Blog Ata Diken


Spekulasi filosofis tentang arsitektur memiliki sejarah panjang. Proposisi filosofis dapat dilihat sebagai komponen atau paket praktik arsitektur yang mapan sejak awal. Itu terlihat dalam buku terkenal “Sepuluh Buku tentang Arsitektur- De Architectura” karya Vitruvius. Pada periode itu, akademisi dan arsitek menganut ide-ide yang muncul dari filsafat. Ketika membahas asosiasi arsitektur dan filsafat, seseorang dapat merujuk pada beberapa pemikiran, gerakan, konsep, individu, dan peristiwa yang berbeda karena pemikiran menyimpan aspek kreatif.

Banyak arsitek bekerja pada filosofi desain yang menjadi tonggak penting dalam arsitektur. Seperti “Form Follows Function” oleh Louis Sullivan, beberapa filosofi menjadi seperti hukum atau aturan tidak tertulis. Le Corbusier membentuk filosofi “5 Points of Modern Architecture” yang melahirkan mahakarya seperti Villa Savoye dan Capitol Complex, yang mencerminkan era modernisme. Contoh lain adalah pelopor Arsitektur Organik, FL Wright, yang mengembangkan filosofi Gaya Prairie yang mencerminkan lanskap gaya itu dengan atap rendah. Ludwig Mies Van der Rohe adalah modernis lain yang menggunakan “Less is more” dengan merancang multifungsi dan membuat sambungan dengan menggunakan kaca dan baja yang menunjukkan modernisme pabrik abad ke-20. Zaha Hadid memiliki filosofi pragmatis yang menolak tipe bangunan konvensional yang mengeksplorasi 360 derajat. Demikian juga, Frank Gehry mengutip “Arsitektur harus berbicara tentang waktu dan ruang, tetapi merindukan keabadian”, mengembangkan arsitektur eksperimental, memberikan struktur yang paling abadi seperti Museum Guggenheim di Bilbao.

Contoh-contoh di atas membuktikan bahwa filsafat dan arsitektur terhubung dan terkait, karena mereka berusaha memahami beberapa keprihatinan paling mendasar dari keberadaan manusia. Filsafat selalu ada, di mana pun ada ide atau pemikiran. Dengan kata lain, praktik arsitektur sebagai aktivitas yang terlepas dari pemikiran tidak mungkin dilakukan.

Bertolak dari penalaran di atas, sejauh mana kehadiran PT Semen Tonasa berkontribusi pada pengembangan filosofis dan kosmologi masyarakat ketika merancang dan mendirikan sebuah bangunan? Jika bangunan adalah cermin peradaban, bagaimana posisi PT Semen Tonasa dalam merumuskan dan mewujudkan konsep di atas?

Pertanyaan-pertanyaan di atas coba dijawab dengan menjadikan Kawasan Indonesia Timur (KTI) sebagai eksemplar penjelas.

Peluang dan Tantangan: Narasi dari Timur Indonesia


Sebagai salah satu semen unggulan di KTI yang berdiri sejak tahun 1968, PT Semen Tonasa sudah pasti banyak berkontribusi dalam bidang konstruksi, baik itu hunian privat maupun infrastuktur publik. Bertolak dari sumbangsih historis dan aktual itu, terdapat beberapa peluang dan tantangan dalam rangka pembangunan infrastruktur di KTI ke depan.

Pertama, kondisi topografi dan geografis di KTI membutuhkan jenis hunian dan bangunan yang tahan bencana. Baru-baru ini badai Siklon Seroja melumpuhkan perkenomian dan hunian masyarakat di NTT. Selain membutuhkan kecerdasan tata ruang agar terhindar dari bencana serupa di kemudian hari, masyarakat tentu membutuhkan semen yang kokoh dan tahan bencana bahkan perlu menciptakan “self-healing cement” yaitu teknologi semen yang memungkinkan untuk memperbaiki keretakan dengan sendirinya.

Mempertimbangkan topografi di Timur Indonesia yang tergolong kering dan membutuhkan irigiasi, jenis semen Portland Pozzolan Cement (PPC) merupakan pilihan yang taktis. Semen jenis ini ideal untuk bangunan di daerah pantai, di lingkungan garam sulfat yang agresif, serta konstruksi bangunan yang memerlukan kedapan air tinggi seperti bangunan sanitasi, perairan dan penampungan air.

Sumber Gambar: www.sementonasa.co.id

Kedua, pengadaan infrastruktur yang mendukung konektivitas, akselerasi pembangunan ekonomi, sosial, dan politik. Pada masa ini, pemerintahan presiden Joko Widodo menjadikan problem ketimpangan di KTI sebagai program prioritas pembangunan dalam kerangka 3T yang mengerucut pada beberapa sektor antara lain: sektor energi (BBM Satu Harga), sektor birokrasi (Layanan Terpadu Satu Atap dan Satu Pintu), dan elemen konektivitas atau aksesibilitas (Infrastruktur). 

Dalam hubungannya dengan infrastruktur, salah satu jenis semen hasil produksi PT Semen Tonasa yakni Ordinary Portland Cement (OPC) atau yang umum dikenal dengan Semen tipe 1. Semen jenis ini digunakan untuk bangunan umum dengan kekuatan tekanan tinggi dan membutuhkan persyaratan khusus seperti jembatan, overpass, jalan raya, dan gedung-gedung tinggi, dan landasan bandar udara. Meskipun demikian, OPC juga dapat digunakan untuk jenis pembangunan umum yang tidak membutuhkan persyaratan khusus seperti hollow brick/batako, paving block, roster, dan lain-lain.

Tentu saja, infrastruktur fisik merupakan elemen pemicu konektivitas antardaerah, memungkinkan orang dari berbagai daerah saling terhubung, terciptanya ekonomi perjumpaan, dan ajang saling berkomunikasi. Singkatnya, selain merekatkan bangunan, semen merupakan elemen dasar yang merekatkan merekatkan perbedaan, melipat jarak yang selama ini dibuat terpisah oleh kebijakan ekonomi dan politik.

Ketiga, kebutuhan akan aspek keindahan bangunan hanya bisa terealisasi jika didukung oleh aspek kekokohan bangunan. Seperti apa seharusnya bangunan itu? Nilai seperti apa yang harus disarankan? Apa yang indah? Namun pertanyaan di atas menjadi tidak relevan persis ketika ia didirikan di atas dasar yang rapuh. Disebut demikian karena bangunan bukan hanya produk sebuah teknologi. Mereka juga merupakan hasil dari gagasan. Namun gagasan itu hanya bisa bertahan jika didukung oleh dasar yang kuat, ketahanan yang teruji, dan semen berperan penting untuk itu.

Efek lanjutan dari adanya aspek kekokohan dan ketahanan bangunan pada akhirnya memberikan kita gambaran tentang kebahagiaan. Sebuah bangunan misalnya, mampu menunjukkan kita makna ketenangan, kelembutan, dan keanggunan. Ini bukan untuk mengatakan bahwa tempat yang elegan akan membuat orang yang elegan. Kita bisa mengatur untuk tidak bahagia di tempat yang paling indah. Singkatnya, ruang sebuah bangunan memampukan dan/atau membatalkan kita menjadi manusia.

Disebut demikian karena arsitektur sebuah bangunan itu seperti sebuah narasi. Kita semua belajar bagaimana menulis tetapi tidak semua orang bisa menjadi penyair. Semen Tonasa memberikan peluang bagi para pekerja untuk belajar bagaimana menjadi penyair di bidang mereka. Yang terpenting, dengan cara itu, para pekerja belajar menciptakan emosi yang mungkin belum pernah dialami orang sebelumnya. Dengan kata lain, arsitektur bukanlah tujuan, itu adalah bahasa.

Dengan adanya semen yang mampu merekatkan material, kita mampu memperlakukan bangunan seperti manusia. Sebab, bangunan memiliki latar belakang filosofisnya sendiri. Itu sebabnya, hadirnya Semen Tonasa ingin menegaskan bahwa bentuk mengikuti fungsi itu tidak benar. Bangunan diciptakan untuk lebih banyak dan mereka sering mengubah fungsinya karena mereka memiliki potensi untuk memainkan banyak fungsi selama hidup mereka. Bentuk harus mengikuti ide atau gagasan.

Keempat, aspek ketahanan dan keberlanjutan yang meliputi: ramah terhdap alam dan lingkungan, tetap mengedepankan kearifan lokal. Hal ini penting karena interpretasi kita akan ruang mencerminkan eksistensi kita sebagai manusia antara lain identitas tentang siapa kita, di mana kita berada, dan apa yang diharapkan dari kita. Ini juga menentukan signifikansi lokasi kita dalam jaringan komunitas yang lebih luas, jenis dan jumlah orang yang berhubungan dengan kita. 

Ruang juga mencerminkan tingkat pendidikan, latar belakang agama, akses ke teknologi tertentu, harapan, ketakutan, dan harapan masa depan. Selain itu, ruang juga menentukan pengertian kita tentang masa lalu dan signifikansinya, keterpaparan kita pada yang lain, baik dalam masyarakat kita sendiri atau masyarakat lain (Lihat tulisan saya berjudul Berebut Kontrol Atas Ruang dan Waktu). Colosseum misalnya, adalah bangunan yang bercerita tentang kekuasaan dan dominasi. Ini juga tentang ketertiban. Ini adalah proyeksi nilai dari mereka yang menciptakannya, seperti kebanyakan bangunan. Ini adalah ideologi Romawi yang ditulis besar-besaran. Ini tentang semangat dunia Kuno, dengan keyakinannya pada keberanian bela diri dan kebanggaan sipil.



Bertolak dari argumen dan kisah di atas, sebagai produsen semen yang terus berkembang, tentu saja masyarakat memiliki harapan besar pada PT Semen Tonasa antara lain:

1). Aspek keberlanjutan. Bagian ini penting agar selain menghasilkan produk yang berkualitas, PT Semen Tonasa juga menciptakan material bangunan semen yang ramah lingkungan. Dikatakan demikian karena, seperti diketahui, emisi karbon yang dihasilkan dalam proses pembuatan semen memiliki andil dalam pemanasan global. Mengenai hal tersebut, ada kabar baik pada tanggal 8 Januari 2020 di mana PT Semen Tonasa kembali meraih Proper Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai bukti ketaatan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan (baca berita terkait di sini).

2). Aspek kearifan lokal. Selain itu, diharapkan kehadiran Semen Tonasa juga memungkinkan adanya inovasi penciptaan arsitektur yang sesuai dengan kearifan lokal dan kosmologi masyarakat setempat.

Sumber Gambar: www.sementonasa.co.id
 

3). Aspek ketahanan bangunan. Ini memungkinkan generasi mendatang bisa memahami sejarah hidup masyarakat pada masa tertentu melalui pengamatan dan penelitian terhadap sebuah bangunan. Sejarah hidup itu tampak dalam desain eksterior dan interior, di mana bangunan itu didirikan, komposisi bahan, dan jenis perekat atau semen yang digunakan untuk merekatkan material.

Ad Multos Annos, PT Semen Tonasa!

*Artikel ini meraih juara III dalam kompetisi menulis blog menyongsong HUT ke-53 PT Semen Tonasa.



Comments