(dari Perbaikan Gaya Hidup ke Kebijakan Politik)
Kebersihan dan kerapian bukanlah masalah naluri;itu adalah masalah pendidikan,dan seperti hal-hal besar lainnya,kamu harus menanamkan rasa padanya
(Benjamin Disraeli)
Berbeda dengan jenis sampah lainnya, membincangkan sampah
makanan berarti berbicara tentang kehidupan manusia dan segala dimensinya.
Disebut demikian karena sampah makanan adalah gambaran terdekat dari buruknya
penghargaan manusia terhadap hal paling esensial dalam hidupnya: makanan.
Atau, jika dibahasakan secara provokatif,
bagaimana mungkin manusia bekerja keras untuk memperoleh makanan yang sesudah itu disia-siakan?
Argumen di atas bukan sekadar asumsi semata. FAO (2014) mencatat,
kira-kira sepertiga dari semua makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia,
hilang atau terbuang percuma setiap tahun. Secara global,
diperkirakan 14 persen makanan yang bernilai sekitar 400 miliar hilang antara
panen dan distribusi, 30 persen makanan terbuang itu setara dengan 1,3 miliar
ton makanan, biaya ekonomi AS $1 triliun, biaya lingkungan sekitar AS $700
miliar, dan biaya sosial sekitar AS $900 miliar.
Dalam segmentasi negara, di Amerika Serikat, sekitar 150.000
ton makanan terbuang dari seluruh rumah tangga setiap harinnya (The Guardian, 18 April 2018). Demikian juga di
Tanah Air di mana Laporan Food Sustainability Index (2021), menobatkan Indonesia
sebagai salah satu negara penghasil sampah makanan terbesar — rangking ke-53
dari 67 negara dalam indikator penghasil Food Loss (FL) dan Food Waste (FW).
Sayangnya, tingginya kuantitas sampah makanan di Indonesia
diperparah dengan rendahnya sistem pengelolaan sampah. Berdasarkan penelitian dari
The Economist Intelligence Unit (EIU), diketahui bahwa Indonesia merupakan negara
kedua di dunia dengan tingkat usaha terendah dalam mengurangi sampah makanan.
Berhadapan dengan fakta di atas, muncul pertanyaan:
Apa saja faktor yang melatarbelakangi terjadinya sampah makanan?
Apa dan bagaimana implikasi sosial politik yang disebabkan oleh sampah makanan?
Regulasi seperti
apa yang dibutuhkan untuk mengatasi problem tersebut?
Beberapa Faktor Pemicu
Sampah makanan, menurut FAO terdiri atas food loss dan foodwaste. Maksudnya, makanan yang hilang pada mata rantai produksi, kegiatan paska
panen, penyimpanan, dan pemrosesan disebut food loss. Sementara itu, makanan
yang hilang pada mata rantai akhir pasokan makanan yaitu konsumen akhir disebut
food waste.
![]() |
sumber gambar: nutriscope.ca |
Dari pembedaan di atas, terdapat beberapa faktor pemicu sampah
makanan (food waste), antara lain:
Pertama, faktor perilaku yang berhubungan langsung dengan
pengetahuan dan gaya hidup individu mulai dari manajemen pembelian, penyimpanan,
dan konsumsi hingga paska konsumsi. Kedua, rendahnya cara pandang terhadap
nilai makanan dan lemahnya kesadaran untuk mengonsumsi makanan seperlunya. Ketiga,
preferensi pribadi yang tampak dalam beberapa kebiasaan di mana orang justru
membuang beberapa bagian makanan yang mengandung nutrisi seperti kulit buah
apel atau bagian roti yang agak keras, hanya karena kesukaan pribadi.
Keempat, buruknya faktor perencanaan yang tampak dalam
kebiasaan membeli terlalu banyak makanan sehingga tidak termakan,
bahkan terbuang. Kelima, faktor teknik penyimpanan yang tidak optimal sehingga
makanan kurang awet dan sistem kemasan yang kurang baik sehingga produk makanan
mudah rusak. Keenam, buruknya tata kelola persampahan baik di level
nasional maupun daerah.
Implikasi Sosial Politik Sampah Makanan
Pertama, dampak lingkungan. Secara global, sampah makanan
menimbulkan 4,4 giga ton CO2e atau sekitar 8% dari total emisi gas rumah kaca
(GRK) antropogenik. Bahkan, gas-gas yang dihasilkan oleh sampah makanan 4 kali
lebih banyak dari yang diproduksi oleh kendaraan (Suara.com, 15 Januari 2020). Selain itu, sampah makanan mengekspos buruknya perilaku kita menyia-nyiakan
tanah dan hutan, dan bahkan mendorong kepunahan keanekaragaman hayati, baik di
darat maupun di laut.
Kedua, dampak finansial. Data The Economist tahun 2016-2017 mencatat,
sekitar 13 juta ton makanan dibuang sia-sia setiap tahunnya. Jumlah makanan terbuang
ini sama dengan dapat dipenuhinya konsumsi bagi angka kelaparan di Indonesia
yang mencapai 28 juta orang (Tamara, dkk. 2020).
Ketiga, dampak sosial. Membuang sampah makanan pada saat sama memunculkan pertanyaan lain tentang tanggung jawab sosial manusia terhadap sesamanya yang kelaparan sekaligus memperburuk krisis pangan. Dengan kata lain, mengurangi sampah makanan dapat dilihat sebagai salah satu strategi memperbaiki indeks ketahanan pangan masyarakat pada umumnya.
Alternatif Gaya Hidup Minim Sampah Makanan
Pertama, buat rencana pembelian yang matang. Ini penting
karena ada kecenderungan orang menimbun makanan, terutama pada masa-masa awal
pandemi. Oleh sebab itu, tanamkan dalam diri Anda untuk membeli makanan sesuai
dengan kebutuhan dengan maksud mengurangi sampah makanan, di samping
menghindarkan Anda dari kebiasaan menghambur-hamburkan banyak uang untuk hal
yang sia-sia.
Kedua, simpan makanan secara baik. Saat Anda membeli makanan
di sebuah tempat makan atau restoran, ada baiknya untuk membawa pulang sisa
makanan untuk disimpan apabila sewaktu-waktu Anda ingin mengonsumsinya kembali.
Ketiga, olah kembali sisa makanan. Tentu saja hal ini dapat
dilakukan apabila sisa makanan tersebut dapat diolah kembali. Hal ini tak lain
bertujuan tetap mempertahankan gizi yang terkandung di dalamnya. Anda dapat
mengolahnya kembali dengan cara cukup dipanaskan kembali atau dicampur dengan
bahan makanan yang lain.
Keempat, kurangi makanan instan karena jenis makanan ini
menyumbang cukup banyak sampah. Apalagi, karena dijual secara masif di pasaran,
jenis makanan ini sering telah melewati tanggal kedaluwarsa dan tidak dapat
dikonsumsi kembali.
Kelima, jika memiliki kelebihan makanan (bukan makanan sisa
konsumsi), Anda dapat membagikannya kepada tetangga atau kerabat. Selain
mengurangi penimbunan sampah makanan, Anda juga dapat mempererat tali
persaudaraan dengan mereka.
Keenam, cara mengurangi sampah makanan juga dapat
dilakukan melalui penetapan denda. Pihak restoran atau rumah makan misalnya,
dapat memberikan tarif denda dengan jumlah tertentu agar para pelanggan lebih
bertanggungjawab terhadap makanan yang hendak dibeli.
Alternatif Kebijakan Politik
Selain mendesak individu atau anggota masyarakat untuk
memperbaiki gaya hidupnya, dibutuhkan alternatif perbaikan kebijakan politik. Mengenai
hal ini, perlu saya ucapkan apresiasi kepada Bandung Food Smart City (BSC), sebuah program
yang diinisiasi untuk menjadikan Bandung sebagai Kota Cerdas Pangan sekaligus
merupakan respon strategis dan ideologis dalam menghadapi problem sampah
makanan.
Berkat kerja sama dengan Rikolto (VECO), sebuah lembaga
internasional yang berkantor pusat di Belgia, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
(FISIP) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) dan Pemerintah Kota Bandung,
program BSC sukses menjadikan Kota Bandung sebagai salah satu dari 50 smart city di dunia tahun 2020/2021. Penghargaan itu ditetapkan oleh Eden Strategy Insitute, sebuah perusahaan konsultan strategi yang berbasis di Singapura. Sebanyak
lebih dari 230 kota dievaluasi dan diuji oleh Eden Strategy Institute.
Oleh karena itu, negara mesti belajar dari keberhasilan program
Bandung Food Smart City dengan menginisiasi bentuk serupa dengan melibatkan pemerintah
pusat dan daerah, industri, kancah pendidikan, masyarakat, dan media massa untuk
menyebarluaskan gagasan gaya hidup bebas sampah di Indonesia.
Pertama, mempromosikan dan mengampanyekan tata kelola
penyimpanan dan konsumsi makanan agar tidak terbuang secara sia-sia, termasuk
masa belaku produk makanan. Ini perlu dilakukan melalui pendidikan baik kepada
produsen maupun konsumen di Indonesia tentang arti tanda “digunakan oleh” dan
“digunakan sebelum”, untuk memastikan produk tersebut digunakan secara efektif
dan efisien. Ini dapat dilakukan dengan melibatkan perusahaan, media massa, dan
tokoh masyarakat.
Kedua, pemerintah pusat perlu bekerja sama dengan pemerintah
daerah untuk mendukung dan mempromosikan pembangunan tempat penyimpanan makanan
di setiap kabupaten/kota.
Ketiga, dengan melibatkan pelbagai industri jasa layanan
digital, pemerintah dapat membeli hasil pertanian dan produk makanan yang mudah
rusak untuk didaur ulang atau disumbangkan melalui bank makanan atau amal
makanan. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat aplikasi food sharing dengan
memanfaatkan telepon pintar dan GPS (Rozaq, Brata, dan Pramono, 2019).
![]() |
Skema kebijakan politik lintas sektoral mengatasi problem sampah makanan. Gambar dari idntimes.com |
Keempat, kepada pihak restoran dan rumah makan misalnya,
pemerintah perlu mempromosikan dan mendesak pengemasan ulang makanan untuk dijual
secara eceran. Selain itu, perlu ada ketentuan di mana pihak restoran dan rumah
makan memiliki metode alternatif dalam mengelola sisa makanan, diantaranya
menyumbangkannya kepada mereka yang membutuhkan atau mendaur ulang menjadi
pupuk.
Kelima, memanfaatkan sampah makanan sebagai sumber listrik
seperti yang dilakukan di Swedia. Belajar dari
Swedia, ternyata pemerintah telah mengeluarkan Perpres Nomor 35 tahun 2018
tentang Percepatan Program Pembangunan PLTsa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah)
dan dibangunnya empat PLTsa di DKI Jakarta, Bekasi, Solo, dan Surabaya yang
mengolah setidaknya 60ribu ton sampah per hari. PLTsa di Bekasi misalnya,
sepanjang tahun 2020 telah mengolah sebanyak 9.879 ton sampah (Tempo.co, 10
Maret 2021, Detik.com, 30 Juli 2019).
Keenam, mengubah sampah organik seperti gula merah atau gula
pasir, dan air ke dalam bentuk eco-enzym. Ini dikembangkan pertama kali oleh
Dr. Rasukan Poompanvong dari Thailand. Manfaat 1 liter larutan eco-enzym
misalnya, dapat memurnikan air sungai yang terkontaminan, sebagai antiseptik,
dan menyuburkan tanah (baca: Megah, dkk. 2018; Sujartadan Simonapendi, 2021).
Ketujuh, olah sampah makanan menjadi kompos. Tapi jika daya tampung terbatas, bisa menggunakan Black Soldier Fly (BLF) atau lalat hitam dengan nama Latin Hermetia Illucens. 1 kg larvanya mampu mengurai 1 kg sampah organik. (Tentang pemanfaatan BLF, bisa baca: Saragi, 2015; Lalander, dkk. 2019; Sipayung, 2015; Oktavia dan Rosariawari, 2020).
*Artikel ini menjadi salah satu pemenang hiburan.
Comments
Post a Comment