Pertama, revolusi dimulai dari adanya niat balikan
Mengenai hal ini, kalian mungkin pernah membaca karya Karl Marx, Das Kapital.
Selain membahas persoalan ekonomi dan perjuangan kelas, dalam Communist Manifesto, Surat Edaran Marx dan Engels (1848), setidaknya ada teriakan revolusioner yang saya plesetkan menjadi,
kaum jomblo sedunia, bersatulah!
Tidak perlu dibahas, mengapa mesti ada persatuan dulu baru tercipta revolusi. Saya tidak membicarakan hal tersebut di sini. Itu masa lalu saya.
Baiklah, kembali ke pokok persoalan.
Jauh di dalam lubuk hati yang paling tulus, banyak orang yang sesudah "putus", memendam harapan untuk balikan. Terdapat semacam daya penyesalan sekaligus prinsip untuk tidak mengulangi kesalahan yang menyebabkan hubungan antara seseorang dan mantan kekasihnya berakhir.
Jujur, niat seperti itu sama sekali tidak lucu. Pertobatan, atas cara tertentu, juga mengedepankan niat balikan kepada cara hidup yang berkenan di hadapan Tuhan.
Kedua, curhat
Akhir-akhir ini, setelah kebiasaan menulis surat sudah ditinggalkan, orang lebih suka curhat di media sosial. Faktor utama yang menyebabkan orang ingin curhat yakni besar harapannya untuk didengarkan. Intinya cuma itu. Yang hebat-hebat justru hanyalah tafsirannya saja.
Pembungkaman Niat Balikan
Kejahatan ideologis berbentuk pembungkaman niat balikan, akhir-akhir ini semakin marak. Ditolak satu orang adalah tragedi tetapi jika ditolak jutaan orang adalah statistik.
Bandingkan misalnya, kasus Ahok. Meskipun sudah berniat secara sungguh untuk menyesali perbuatannya, toh statistik mencatat hal tersebut sebagai tindakan kriminal. Belum lagi, kasus 1965/1966 di mana negara dituntut untuk meminta maaf sebagai bentuk rekonsiliasi terhadap para korban.
Atau kasus pembunuhan Munir yang hingga saat ini menjadi semakin lancung prosesnya. Bangsa Indonesia mestinya menyadari bahwa negara ini berdiri di atas landasan berdarah-darah para pendahulu. Tidak ada kemajuan dan perkembangan sejarah tanpa darah. Nah, siapa saja pasti tahu, hati manusia tidak hanya terdiri atas daging dan darah.
Di dalamnya, mengandung sesuatu yang niskala, disebut sebagai perasaan, jiwa. Oleh karena itu, membungkam niat orang untuk balik ke masa lalu, mengakui kepahitan dan kekelaman sejarah merupakan kejahatan ideologis sejak dalam pola pikir.
Lihat saja bangsa Jerman yang terpuruk karena tragedi paling banter sepanjang sejarah manusia di kamp konsentrasi Auschwitz. Hanya karena keikhlasan dan sikap rendah hati, mengakui pekatnya masa lalu, bangsa itu bangkit dan berkembang bahkan semakin dewasa daripada sebelumnya hingga saat ini.
Dalam rangka mewujudkan ideal di atas, dibutuhkan keberanian, bila perlu nekat. Banyak perempuan tidak butuh laki-laki yang pintar memendam perasaan.
Kami butuh diperjuangkan, mas,
kata Isthiqomah, salah seorang teman kelas saya.
Sumpah demi para leluhur, jika dalam urusan percintaan saja kau belum berani, setidaknya kau berani memperjuangkan masa depan bangsamu ini dalam beberapa aspeknya.
Lalu, jika saya ditanya, bagaimana caranya memperjuangkan masa depan bangsa, jawabannya sederhana: perjuangkanlah cintamu!
Bukankah maju dan mundurnya kehidupan sebuah bangsa tergantung dari bagaimana engkau memperlakukan orang yang paling engkau cintai?
Lebih mengerucut lagi: sesungguhnya kedaulatan sebuah bangsa dimulai dari bagaimana caramu merawat kedaulatan keluarga yang akan kau bangun pada suatu saat nanti.
Jika bersalah, akuilah secara terus terang di hadapan sesama teristimewa anak-anak bahwa dirimu bukanlah manusia yang sempurna. Saya yakin, siapa saja di dunia ini, menikah bukan karena telah menemukan orang (atau merasa diri) sempurna.
Poin ini sangat penting untuk mengukur sejauh mana kadar kerendahan hati seseorang atau sebuah bangsa di hadapan sejarah hidupnya. Dikatakan demikian, karena untuk balikan, butuh sikap lapang dada untuk siap dicemooh dan dipergunjingkan.
Dalam Alkitab Perjanjian Baru misalnya, ada cerita mengenai seorang pemungut cukai bernama Zakheus yang bertobat dan kembali ke 'jalan hidup yang benar'. Dia menerima balasan yang setimpal melalui pernyataan Yesus, "Sesungguhnya orang ini pun keturunan Abraham".
Di sini, niat balikan menyediakan dua hasil akhir: diterima atau ditolak. Meskipun demikian, hal paling utama dari 'balikan' bukanlah hasil semacam itu. Bukan! Di sini, saya ingin mengedepankan betapa berharganya jika seseorang mengutarakan niatnya untuk 'balikan', yakni disposisi batin yang lebih dewasa.
Dengan demikian, orang diajarkan untuk lebih bijaksana dalam mendisiplinkan diri bahwa ternyata mencintai itu tidak semudah membicangkannya. Selalu ada risiko dan rasa sakit yang tidak biasa. Percayalah, dari sanalah, pertumbuhan dimulai!
Curhat Berbicara
Pada masa ini, jujur, saya tidak terlalu percaya pada media massa, apalagi media sosial.
Alasan saya sederhana, kepercayaan itu kata kerja dan berproses. Tidak pernah ada kepercayaan yang selesai.
Hari ini, kau bisa saja menjadi terkenal karena kemudahan media sosial namun pada saat yang sama besar kemungkinan bagimu untuk "jatuh" karena media yang sama itu pula.
Lagi pula, dengan iklim demokrasi yang belum matang, profesionalitas jurnalis di Indonesia masih belum bagus.
Lihat saja, betapa banyaknya media online abal-abal yang dengan cerdiknya memantik sentimen sosial hingga memicu konflik horisontal dan vertikal.
Berkaitan dengan hal di atas, saya mewanti-wanti pembaca, curhat yang berkualitas selalu lahir dari, mengutip Chairil Anwar, kerongkongan yang tersangkut kawat berduri.
Artinya, komposisi curhat mesti mengandung kegelisahan sosial yang lahir dari kedalaman batin dan kejernihan pikiran.
Berkaitan dengan hal di atas, saya mewanti-wanti pembaca, curhat yang berkualitas selalu lahir dari, mengutip Chairil Anwar, kerongkongan yang tersangkut kawat berduri.
Artinya, komposisi curhat mesti mengandung kegelisahan sosial yang lahir dari kedalaman batin dan kejernihan pikiran.
Sayangnya, tidak sedikit orang yang bersikap masa bodoh ketika orang lain melakukan curhat.
Hancurnya bangsa ini bukan karena kurangnya orang baik melainkan karena terlalu banyak orang baik yang memilih diam.
Lebih celaka lagi ketika praktik diam ini dilakukan bukan sebagai bentuk protes sosial melainkan lebih sebagai sebuah sikap masa bodoh alias apatis.
Tindakan seperti ini mengingatkan saya bahwa kadang kala, saking dalamnya perbedaan membuat kita seperti menghuni sebuah benua dan bukannya sebuah pulau.
Di hadapan bentuk ketidakadilan, kau mesti curhat, bicara. Di hadapan praktik diskriminasi sosial, kau mesti buka mulut dan omong. Hanya melalui keberanian untuk bicara dengan orang yang kepadanya kau jatuh hati, kau bisa menikah.
Simpan dulu formula semacam telepati, telekomunikasi dengan perantaraan hati. Selain terlampau niskala, juga tidak masuk akal.
Singkatnya, untuk segala sesuatu,
berbicaralah dan dunia akan menggaungkannya berkali-kali,
kata dramawan Shakespeare.
Comments
Post a Comment