![]() |
qureta.com |
Di tepi sungai Hudson, di Irvington, New York, sebuah rumah
megah berdiri. Terdiri dari 25 ruangan, rumah itulah tempat tinggal pendeta Sun
Myung Moon, seorang Korea yang pendek dan gagah dalam usia 58 tahun, yang gemar
mengail menggunakan kapal pesiarnya yang mewah. Ia membangun gereja, seraya
menganggap Kristus telah gagal. Juru selamat kedua karenanya menurut dia turun:
seorang Korea, kurang lebih dirinya sendiri. Tak sedikit anak muda Amerika yang
datang, dengan penuh ketaatan. Ada seorang anak yang diminta ayah-ibunya agar
kembali. Tapi ia menyahut: “Paling sedikit, Ibu, saya telah beriman kepada
sesuatu.”
Dan kita semua terpekur: Anak-anak, dengan cara apa mereka
percaya?
Dalam novel Dee,
Partikel, kita bertemu dengan Zarah. Syahdan, ketika ia akhirnya masuk
sekolah-setelah ayahnya tidak ada lagi-Zarah mulai merasakan posisinya yang
asing. Ia tak bisa meletakkan keyakinan di antara keyakinan yang telah
dikukuhkan masyarakat.
Pertanyaan: “Kamu ibadah di mana dong, Zarah?”Jawab: “Di kebun.”Pertanyaan: “Kamu menyembah apa?”Jawab: “Jamur.”
Dan Zarah dikeluarkan dari kelas. Seperti Arthur Rimbaud,
sastrawan Prancis akhir abad ke-19 yang “terkutuk” itu, Tuhan bagi Zarah
didatangkan ke dalam hidup dengan kaki yang menginjak. Dalam sajak “Les Poetes
de sept ans” (Para Penyair di Usia Tujuh Tahun), Rimbaud melukiskan wajah pucat
ketika dirinya harus duduk membaca Alkitab.
Tiap malam di kamarnya yang kecilMimpi-mimpi menindasnyaIa tak mencintai Tuhan; ia mencintai manusia.Kita tahu, ia anak yang tak bahagia. Tapi dengan cara apa ia percaya?
***
Di mata sebagian besar orang, Jakarta, ibu kota Republik
Indonesia menyimpan keganjilan-keganjilan yang gamang. Dari dalam kondisi
termaksud, akan sangat mudah kita jumpai model kategorisasi, stratifikasi,
klasifikasi, sistematisasi, imitasi, dan term “sasi” kemudian dipercaya sebagai
sebuah proses ideal menuju kepada. Bahkan kepercayaan itu selanjutnya membentuk
pemahaman dengan pengandaian-pengandaian panjang-tak tuntas. Selalu saja ada
hasrat untuk mencari yang muskil ditemukan atau mencintai yang patah dari
sebuah kalimat pada judul cerita fiksi. Toh, setiap orang dianugerahi metode untuk
bertindak secara berlainan-sekalipun tak jarang itu bertentangan, paradoks.
Situasi paradoks lain yang membuat hati bergetar adalah
ketika seorang ibu pada akhirnya memang menanggung beban, ketika ia bisa
memilih antara melahirkan atau tidak melahirkan. Ada kemerdekaan, tapi juga
kesendirian dan rasa bersalah yang dalam. Siapa saja akan mengerti mengapa
Gabriel, si malaikat pembawa good news, itu belum juga paham apa arti memeluk
dan sebuah kata: Ibu. Atau bahkan mafhum kadang terlambat datang sesudah seorang
pernah menulis puisi “Surat Kepada Seorang Anak yang Tak Pernah Lahir”:
Ulurkanlah tanganmu kepadaku. Lihat, kini kau bukanSebutir telur,Kau bukan ikan yang kecil:Kau seorang anak! Kau telah tinggi sampai ke lututku.Bukan, malah ke hatiku…
Status seorang anak akhirnya diperbincangkan dan dianalisis.
Kiat solutif untuk mensiasati masa depannya dirancang, dirumuskan, dan prediksi
serta akumulasinya pun dimungkinkan. Tidak ada yang bertanya mengapa begitu
teganya makhluk bernama konstruksi sosial itu memosisikan manusia pada predikat
tertentu. Toh, anak hanyalah sebuah status yang mengalami keterlemparan ke
pada/dalam masyarakat. Ia yang awalannya sebentuk “nonsense”, melalui
masyarakat memperoleh legitimasi subjektivitas. Kira-kira seperti itulah
intensi yang diserukan Homerus, penyair Yunani Kuno dalam buku ke-6 cerita
besar Iliad: Sebagaimana generasi daun-daun, begitulah generasi manusia: suatu
ketika angin mengguncang dedaunan hingga rontok ke tanah, tapi kemudian hutan
yang rimbun melahirkannya, dan musim semi hadir. Begitulah generasi manusia,
yang berganti-ganti datang dan pergi.
Konsekuensinya jelas. Stabilitas loci adalah kekeliruan
untuk menyebut bahwa alasan untuk bertahan ialah mitos. Di mana-mana, orang
ingin secepatnya berpindah ke tempat yang baru-identitas yang asing, namun
serentak gagal mencintai daerah asalnya.
Demikianlah generasi kaum muda-pucuk dan tunas dedaunan. Adalah sebentuk
arus sungai. Sebuah batu dilemparkan ke dalamnya akan menimbulkan riak tak
terhitung, tetapi sama sekali tidak bisa mengubah arus yang keras itu.
***
Adakah yang lebih kuat dari runcing gunung-gemunug pada
mulutmu? Motto trilogi khas Olimpiade: Altius-citius-Fortius (lebih tinggi,
lebih cepat, serta lebih kuat) yang terpampang teras pada pintu masuk Gelora
Senayan Jakarta terdengar lebih nyaring daripada semangat untuk tak mau kalah.
Lalu, adakah yang lebih menggetarkan dari manusia (muda)-yang bukan sekedar de
ja vu atau sebatang galah yang berpikir, un roseau pensant?
Spiritualitas sejatinya mengandung: mencintai, sakit hati,
berusaha dan bersyukur. Hanya dengan demikian, cinta tidak pernah akan
mengkhianatimu. Kira-kira seperti itulah passion yang kadang didengungkan
skenario film kolosal. Di satu sisi, kita hanya memainkan sebuah peran semata tetapi
kita menemukan alasan untuk hidup yang lebih berarti pada sisi yang lain.
Comments
Post a Comment