Skip to main content

Demokrasi dan Kekecewaan Para Mantan



Demokrasi bukanlah bak penampung air hujan yang, kalau kapasitasnya kecil, air akan tumpah ke luar. Atau sebaliknya, sebesar apa pun bak penampung tersebut, hujan tidak pernah berjanji untuk menjatuhkan tetesannya ke bumi sesuai dengan ukuran bak tersebut, bukan? 
Dengan demikian, demokrasi, di satu sisi memang sungguh menjadi sarana representasi paling kece, tetapi di lain sisi justru terdapat banyak hal yang luput dari perhatiannya. Gerakan separatisme, pemberontakan, demonstrasi, dan beberapa kisruh politik merupakan salah satu dari sekian banyak bukti bahwa demokrasi memang tidak pernah mencukupi. Demokrasi itu seperti hasrat; yang kalau dipenuhi berarti demi bertumbuhan hasrat yang lebih baru lagi. Begitu seterusnya.

Kekecewaan pada sistem demokrasi di Indonesia mencerminkan betapa muaknya rakyat di hadapan pelbagai kebijakan yang cacat. Rakyat muak dengan begitu banyaknya janji politik yang tak kunjung ditepati. Rakyat muak dengan ideal kehadiran Negara yang tidak pernah diwujudkan. Di mata rakyat, Negara hanyalah sosok yang acuh tak acuh. Tidak punya pendirian. 

Dalam kondisi seperti itulah, rakyat lalu memandang dirinya sendiri sebagai seorang mantan yang percuma. Lebih parahnya lagi kalau sampai ada orang yang bertanya, “Siapa itu rakyat”? Duh, coba bayangkan, betapa sakit dan menderitanya diperlakukan demikian.

Humor versus Keterbatasan

Predikat “mantan” yang disematkan pada rakyat bukanlah sebuah lelucon. Dalam filsafat humor, tidak ada lelucon tanpa korban. Artinya, untuk menciptakan atau membuat penikmat lelucon tertawa, dibutuhkan korban. Nah, dalam konteks itulah, lelucon politis seperti mantan di atas, dibuat karena rakyat sedang menderita tekanan psikologis. Bayangkan saja, apa yang bisa kau perbuat bila dalam kondisi seperti itu? Sekadar menghibur diri, mau tidak mau, manusia butuh menertawakan nasibnya sendiri; menertawakan ketidakmampuannya menghadapi persoalan hidup yang jauh di luar kapasitas untuk mengatasinya. Termasuk menertawakan kekurangan diri setelah menjadi mantan di hadapan kekasih yang usai membanting pintu, dengan begitu mudahnya move on tanpa perasaan.

Sampai pada taraf itu, kehadiran Negara merupakan satu-satunya jalan keluar demi menyelamatkan mantan dari kecenderungan banal seperti mengupayakan separatisme. Mengatasi hal ini, dibutuhkan adanya sistem pendidikan yang menjangkau segala lapisan termasuk para mantan yang sering diabaikan. Jika anda mendidik seorang kekasih berarti anda mendidik seorang manusia tetapi jika anda mendidik seorang mantan dan jomblo berarti anda mendidik seluruh bangsa. Alasannya sederhana, apalah artinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) jika beberapa daerah lalu memilih untuk merdeka seperti Timor Leste?

Patut disadari bahwa konsep mantan hanya akan ada ketika seseorang merasa diabaikan dan tidak diperhatikan dalam suatu relasi. Semua orang tahu baik tentang hal ini. Fenomena pengabaian seperti itulah yang membuat mantan semakin merajalela di Indonesia. Sebut saja peristiwa “Ledakan di Sarinah, teror ISIS (Islam State of Iraq and Suriah), Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara), Syiah”, dan macam-macam aksi destruktif lainnya menunjukkan bahwa mantan memang butuh diperhatikan. 

Teror paling narsis seperti ISIS itu seolah-olah ingin mengatakan demikian, “Hei kalian, inilah kami!” Itu menjadi bukti bahwa tujuan utama aksi mereka bukanlah merusak gedung atau membunuh manusia. Bukan! Lebih dari itu, tindakan tersebut demi penegasan identitas bahwa mereka sesungguhnya ada. Sungguh, mereka ingin diperhatikan. Mantan manakah yang tidak cerdas mencuri perhatian publik? 
Nah, sampai di sini saya membayangkan betapa kadangkala perbedaan-perbedaan di antara kita demikian dalamnya sehingga kita tampaknya menghuni bersama suatu benua, tetapi bukannya suatu negeri.

Rakyat Indonesia seperti sedang berada pada LDR (Long Distance Relationship) taraf akut. Antara rakyat dan pemimpin bangsa ini, terdapat jurang yang tak tersebrangi. Kalau pun ada jembatan yang disebut sebagai demokrasi, toh kendaraan (auto-mobile) seperti itu lebih sering macet ketimbang beroperasi secara baik. Tetapi jujur, saya bangga dengan rakyat Indonesia yang tidak mudah manja.

Mantan sebagai "Conditio Sine Qua Non"


Taufiq Ismail pernah menulis, “Setiap perjuangan memang menyediakan hal yang tidak enak. Tapi, yang tidak enak adalah bila kita becermin hari ini dan melihat wajah musuh kita kemarin”. Artinya jelas, sekalipun atas cara tertentu, para teroris itu dimusuhi, toh mereka tetap dirindukan, paling kurang oleh para anggotanya. Bahkan mereka justru dianggap sebagai pahlawan bagi kaumnya. Semoga saja para pemimpin bangsa Indonesia yang, kalau becermin hari ini, melihat kumpulan wajah mantannya. Ini bukan harapan, tetapi idealisme. 

Entah bagaimanapun juga, mantan itu “conditio sine qua non” (tidak bisa tidak, syarat mutlak) demi terselenggaranya pemerintahan demoratis. Ada semacam hukum dalam setiap kekuasaan: Betapapun hebatnya kekuasaan itu, ia masih tetap membutuhkan orang lain (baca: mantan). 
Sang raja yang sendirian di planet kecil dalam cerita Le Petit Prince karya Antonie de St. Exupery yang termasyhur itu, akhirnya toh meminta seorang manusia lain untuk hadir, sebagai rakyatnya. Ia memang tak bisa bertahta hanya bagi langit yang bungkam. 
Mungkin karena itulah, George W Bush, Presiden ke-43 Amerika Serikat dalam bukunya Decision Points (2010) menulis, “The institution of presidency is more important than the person who holds it”.

Comments