Kalian pasti pernah mendengar pernyataan “Menjadi jomblo itu pilihan” dan menganggap bahwa hal itu biasa-biasa saja. Tetapi bagi saya, terdapat persoalan serius dalam kalimat tersebut yakni penggunaan kata “pilihan”.
Jika disuruh memilih, tidak
mungkin tidak ada option A, B, atau C
yang disodorkan terlebih dahulu kepada si Pemilih, bukan? Nah, kejanggalan akan
muncul bila terdapat deksripsi lanjutan seperti, “Engkau bebas memilih antara
A, B, atau C”.
Bagi saya, ini aneh! Apa itu kebebasan? Mengapa ada keyakinan
nan mulia bahwa pilihan seseorang menjadi jomblo itu murni dari hati nuraninya
yang terdalam? Saya tidak yakin.
Dalam salah satu adegan Film “The Lady” yang
disutradarai oleh Luc Besson, seorang tokoh pemerintah Myanmar menginterogasi
Aung San Suu Kyi dari liga pro-demokrasi. “Engkau bebas memilih antara
menyelamatkan negaramu ataukah keselamatan keluargamu,” katanya. Beberapa menit
berselang, Aung San Suu Kyi mengangkat mukanya.
Dengan mata memerah karena
sedih, ia mengucapkan sesuatu yang kedengarannya gagal menjadi kalimat tanya:
“Apa itu kebebasan?”
Pada akhirnya, film tersebut ending dengan meluapnya dukungan publik kepada Aung Sann Suu Kyi
yang beberapa tahun berselang dianugerahi nobel perdamaian. Namun, seperti
Indonesia, kita tahu persis bahwa demokrasi adalah sebuah sistem yang tidak
pernah selesai. Selalu saja ada hal yang luput, terabaikan, tidak dihiraukan
sama sekali. Salah satunya adalah kebebasan. Ia hanya akan ada ketika tidak
hadir.
Tentang
kebebasan, ada dua konsep dasar yakni bebas untuk dan bebas dari. Seseorang
yang terlanjur menjadi jomblo terjerat dua kemungkinan seperti ini:
Pertama, ia bebas untuk menjadi jomblo
atas dasar kehendak bebas demi proses aktualisasi diri yang lebih baik.
Kedua, ia menjadi jomblo setelah bebas
dari tekanan sosio-psikologis tatanan masyarakat. Kesimpulannya jelas: Tidak
pernah ada jomblo yang sungguh-sungguh bebas.
Alasannya, agar bisa bebas mengaktualisasikan
diri secara baik, kaum jomblo otomatis harus punya kapasitas lebih untuk bisa
keluar dari stereotip masyarakat bahwa dirinya tidak atau belum laku. Lebih
celakanya lagi kalau jomblo itu sejajar dengan mantan yang gagal move on.
Banyangkan saja; kata “gagal”
itu jauh lebih perih daripada keberhasilan yang tertunda. Dengan demikian, jika
Anda pernah mendengar ada pengakuan dari seseorang penyandang predikat jomblo
bahwa dirinya bebas, jangan mudah percaya. Anda hanya bisa percaya, kalau
jomblo jenis itu berasal dari galaksi lain dengan penghuninya homogen baik
lelaki atau perempuan saja.
Jomblo
yang Terintimidasi
“Time
is kind friend”, seorang penyair wanita yang sedih menulis, “it makes us old”
(waktu adalah teman baik. Ia membuat kita tua). Ia membuat sederet nama jadi
sejarah. Jomblo mana yang tidak panik bila mendengar atau membaca kalimat
seperti itu? Tanpa bisa ditolong, sekalipun dengan napas buatan, nasib kaum
jomblo sedang berada di atas tanduk. Terombang-ambing antara status sebagai mantan
kekasih dan kegagalan PDKT malam Minggu kemarin.
Itulah alasan mengapa hari
yang paling dibenci adalah malam Minggu. Puncak kepanikan kaum jomblo justru
diperparah oleh sistem pemikiran yang hidup dalam masyarakat dewasa ini. Entah
dari mana datangnya, konsep berpasang-pasangan itu seolah-olah merupakan hal
yang normatif.
Kalau bukan karena faktor genetika, menjadi jomblo dengan alasan
seluhur apa pun, dinilai sebagai sebuah ketimpangan serius. Tanpa bisa dielak,
terdapat bias jender dalam konsep seperti itu. Perkawinan heteroseksual
misalnya, telah menjadi tolak ukur untuk melarang Lesbian, homoseks, Biseksual, dan
Transjender (LGBT). Demikian pula dengan jomblo. Komunitas seperti itu hidup
dalam tekanan dan intimidasi sosial tanpa pernah ada solusi yang berani
ditempuh hingga saat ini.
Bagaimana
Caranya Menjadi Jomblo yang Bebas
Menjadi
bebas identik dengan konsep bebas untuk seperti
yang sudah saya jelaskan di atas. Setiap orang yang, dengan kehendak bebas memilih
menjadi jombo, perlu memiliki aspek-aspek sebagai berikut:
Pertama, berjiwa
misioner. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan kata “misi”
sebagai sebuah perutusan yang dikirim oleh negara ke negara lain untuk
melakukan tugas khusus dalam bidang diplomatik, politik, perdagangan, kesenian,
dan sebagainya; Tugas yang dirasakan orang sebagai suatu kewajiban untuk
melakukannya demi agama, ideologi, patriotisme, dan sebagainya; Kegiatan menyebarkan
Kabar Gembira dan mendirikan jemaat setempat, dilakukan atas dasar pengutusan
sebagai kelanjutan misi Kristus.
Dalam Gereja Katolik, penjelasan tentang
seseorang yang berjiwa misioner melekat erat dalam sosok pastor, imam, dan
biarawan/ti. Menariknya, semua mereka itu memilih menjadi jomblo secara militan.
Nah, jomblo seperti inilah yang saya maksudkan dengan jomblo berjiwa misioner.
Mereka lebih mementingkan idealisme ketimbang keterikatan diri pada dunia.
Kedua, berjiwa revolusioner.
Jomblo jenis ini hendaknya memiliki ketahanan jiwa yang tidak biasa. Demi
perkembangan dan kemajuan bangsa, seseorang lalu memutuskan menjadi jomblo agar
memiliki konsentrasi yang lebih terfokus pada tujuan yang ingin dicapai.
Latar
belakang pendidikan yang berkualitas memungkinkan seseorang menjadi jomblo
seperti ini. Jomblo demikian, tidak gampang egois bila berhadapan dengan carut
marut situasi sosial dewasa ini. Sambil memanfaatkan kecerdasan intelektual,
mereka berjuang mati-matian demi terselenggaranya sistem pemerintahan yang adil
dan bersih.
Akhirnya,
kebebasan seorang jomblo sebenarnya tidak tergantung pada atau dari konteks
sosial masyarakat di mana ia ada dan hidup. Lebih dari itu, kebebasannya lahir
dari aktivitas berpikir dan bertindak. Untuk itu dibutuhkan kepekaan dan sikap
cepat tanggap.
Karena alasan itulah maka menjadi jomblo yang bebas memang
meminta tanggung jawab yang tidak
biasa.
Comments
Post a Comment